Kimono Dragg In

Saling Berbagi Informasi Dalam Dan Luar Negeri

Menpora Minta Jangan Kaitan Teroris dengan E-Sport

Deskripsi singkat: Menpora, Imam Nahrawi, tidak setuju jika e-Sport dikaitkan dengan teroris, bahkan ia ingin e-Sport masuk kurikulum sekolah.

Menpora Minta Jangan Kaitan Teroris dengan E-Sport

Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Imam Nahrawi, meminta masyarakat untuk tidak mengait-ngaitkan terori dengan olahraga elektronik atau e-Sport. Komentar Menpora ini pasalnya mengacu pada wacana MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mana membuat fatwa haram gim PUBG (Player Unknown’s Battleground).

Imam Minta Tak Kaitkan Terorisme dengan E-Sport

Imam mengatakan bahwa hal ini tidak ada kaitannya. Padahal, MUI beranggapan bahwa fatwa haram yang akan dikeluarkan untuk gim PUBG ini dipicu oleh adanya terror penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. MUI mengatakan bahwa pelaku penembakan itu terinspirasi oleh baku tembak yang ada di gim PUBG. Imam sendiri beranggapan lain. Menurutnya, e-Sports ini bagus untuk para kaum milenial.

“Bahkan ya, ini harus kami (Kemenpora) wadahi, dan fasilitasi, promosikan juga sebagai bagian dari olahraga. Karena ini faktanya nanti juga para juara harus masuk seleksi berikutnya ke SEA Games dan Asian Games. E-Sports ini sudah dipertandingkan di sana,” ungkapnya pada awak media ketika dirinya ditemui hari Sabtu (30/1) di Istora Senayan.

“Karenanya, harus kita lihat secara utuh juga tak boleh secara parsial saja bahwa ini lah cikal bakal dari teroris. Jangan dikaitkan dengan itu. Itu sungguh lah naif sekali. Dan menurut saya, e-Sports ya e-Sports, teroris ya teroris. Tak ada kaitannya sama sekali,” imbuhnya.

Imam yang hadir dalam Grand Final Piala Presien e-Sport yang dihelat di Istora Senayan mengatakan bahwa bandar togel ia mengapresasi perkembangan olahraga itu yang pasalnya makin banyak peminatnya. “Keren sekali ini partisipasinya, sangat luar biasa. Mulai dari penyisihan di beberapa kota sampai dengan Grand Final hari ini, baik peserta maupun penontonnya sangat antusias, luas biasa,” katanya kagum pada para peserta dan penontonnya.

Meski demikian, e-Sports masih juga dipandang negative oleh sebagian besar orang tua di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan bermain gim dinilai dapat mempengaruhi sekolah atau pun membuat anak-anak menjadi kurang bergaul dengan sekitarnya. Imam menanggapi hal tersebut dengan menyarankan para orang tua di luar sana untuk mengatur waktu bermain gim untuk anak-anak mereka dengan baik dan terarah.

“Asal tidak bole meninggalkan salat, tetap ngaji, tetap kerja. Kecuali e-Sports sudah jadi pekerjaan ya focus ke pekerjaan itu,” tukasnya.

Menpora Dukung E-Sport Masuk ke Kurikulum

Tanggapan Imam soal e-Sport yang didukungnya ini bahkan diperkuat dengan rencana Kemenpora tentang perlunya kurikulum di sekolah untuk pengembangan e-Sport ini. Imam menilai bahwa kehadiran e-Sport ini harus dibarengi dengan kurikulumnya sehingga harus bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ia berpandangan bahwa e-Sport ini memiliki prospek yang bagus dan cerah baik dari sisi industry maupun dari sisi prestasi. “Kami ingin bekerja sama dengan Kemendikbud supaya di masing-masing sekolah ini bisa difasilitasi,” ungkapnya bulan Januari 2019 lalu.

Imam juga menjelaskan pada level prestasi, atlet-atlet e-Sport ini tidak Cuma sekedar main game saja. Layaknya cabang olahraga arus utama, atlet e-Sport ini pun memiliki pelatih dan juga dituntut untuk menjaga kebugaran mereka. “Ada nilai-nilai olahraga, seperti misalnya sportivitas dan kerja sama juga. Jadi, kalau ada yang mempertanyakan e-Sport bukan olahraga ini harus diluruskan,” ungkapnya lagi.

Saat ini Kemenpora bekerja sama dengan Garena yang meluncurkan pertandingan e-Sport tingkat pelajar pertama di Indonesia. Turnamen itu diadakan di 22 kota dan melibatkan sebanyak 40.000 pelajar dan 5000 tim.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.