Kimono Dragg In

Saling Berbagi Informasi Dalam Dan Luar Negeri

Drama Di Sidang Fredrich Yunadi

Selama hampir setengah jam sidang pembacaan surat tuntutan kepada terdakwa mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi tertunda. Penyebabnya adalah drama yang dipicu terdakwa pada sidang yang digelar Kamis  31/05/2018 tersebut. Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kresno Anto Wibowo pada awalnya mengatakan bahwa surat tuntutan yang tebalnya 577 halaman hanya akan dibacakan pada beberapa bagian tertentu saja. Hal ini memang sesuai kebiasaan pada semua persidangan.

 

Takut manipulasi Fredrich minta 577 lembar surat tuntutan dibacakan semua

Tanpa diduga terdakwa menginterupsi dan meminta agar seluruh halaman surat tuntutan tersebut dibaca. Fredrich mengatakan pihaknya keberatan karena tak ingin ada fakta-fakta sidang yang dimanipulasi. Ia juga menambahkan bahwa surat tuntutan tersebut akan disinkronkan dengan rekaman sidang. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dirinya khawatir apa yang tercantum dalam surat tuntutan berbeda dengan keterangan yang disampaikan jaksa. Fredrich juga menduga bahwa jaksa berupaya memanipulasi keterangan dari saksi-saksi.

 

Ia beralasan bahwa jumlah JPU cukup banyak sehingga dapat membacakan seluruh surat tuntutan tersebut. Ia juga mengaku bahwa pledoi yang akan dibacakannya nanti berjumlah 1000 halaman dan saat ini pihaknya telah menyiapkan sebanyak 600 halaman. Permintaan raja poker ini tentu membingungkan hadirin yang berada di ruang sidang termasuk seluruh penasehat hukum terdakwa dan majelis hakim. Tim pengacara pun tampak terkejut dan geli. Melihat itu pengunjung sidang pun turut tertawa terbahak-bahak.

 

Tak didukung oleh tim penasehat hukumnya

Kresno sendiri mengatakan bahwa tim penasehat hukum terdakwa sendiri juga sesungguhnya tak setuju dengan permintaan Fredrich yang controversial tersebut. Masih menurut Kresno, hal ini tentu membutuhkan waktu berjam-jam. Fredrich menambahkan bahwa tim pengacaranya sebenarnya tak setuju dengan jaksa, namun karena puasa mereka semua ia katakana kelaparan. Kalimat tersebut tentu langsung disambut dengan tawa pengunjung sidang.

 

Saat majelis hakim bertanya, penasehat hukum dimaksud juga tak mengatakan secara jelas setuju atau tidak dengan permintaan Fredrich itu. Sebaliknya, pengacara justru menyerahkan keputusan di tangan majelis. Fredrich pun jelas tampak kesal karena tim pengacaranya ragu-ragu dan ia sempat memberi kode singkat agar mereka mendukung keinginannya. Mereka pun akhirnya meminta waktu untuk berdiskusi dahulu dengan terdakwa untuk merundingkan permintaannya membacakan seluruh surat tuntutan.

 

Setelah berunding, Mujahidin, pengacara Fredrich mengatakan kepada hakim bahwa sidang tersebut berkaintan dengan hidup dan mati terdakwa serta memohon agar hakim mempertimbangkan permohonan tersebut. Majelis hakim pun akhirnya sepakat untuk menolak permohonan tersebut. Sesuai dengan kebiasaan yang sudah-sudah hakim meminta jaksa untuk membacakan poin-poin tertentu yang penting saja pada surat tuntutan untuk menghemat waktu. Lagi pula beberapa anggota majelis hakim ternyata harus menghadiri sidang yang lain.

 

Bukan yang pertama

Drama yang dilakukan oleh Fredrich Yunadi bukan kali ini saja terjadi, misalnya pada sidang Tipikor yang digelar pada  hari Jumat 4/5/2018 lalu terdakwa sempat mendapatkan teguran karena dinilai mengucapkan kata-kata yang kurang sopan. Teguran dari ketua mejelis hakim, Mahfudin ini dipicu oleh kata-kata tidak sopan yang berulangkali dikatakan pada saat menjawab pertanyaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi. Kata-kata yang tidak pantas tersebut antara lain adalah idiot serta menggambarkan seseorang seperti siswa taman kanak-kanak.

 

Fredrich juga terang-terangan menyebut jaksa menggunakan istilah “situ”. Sebelum ditegur, M Takdir Suhan, jaksa KPK menyampaikan keberatannya kepada majelis hakim karena kata-kata tak pantas yang dilontarkan Fredrich yang pada waktu itu masih berstatus saksi. Takdir Suhan mengatakan bahwa persidangan tersebut adalah tempat yang sangat dihormati sehingga meminta kepada saksi untuk menjaga tingkah lakunya. Setelah ditegur Fredrich Yunadi sempat meminta maaf dan mengatakan gaya bicara tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-harinya.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.